Minggu, 06 Januari 2013

Agama, Wayang, dan bermain. Tiga hal itulah yang dikerjakan danselalu ada dalam pikiran si Awang kecil ini tiap hari. Ibu selalu menasihatiagar selalu rajin sholat, jangan tunda sembahyang ke masjid di sebelah rumahkalau mendengar azan. Itu pesan ibu yang sekarang ada di kota Malang. Pak likHalid lain lagi, adik sibu yang kini jadi adik bungsunya itu senantiasamengingatkan agar ngaji si Awang kecil ini diperfasih, "kalau mim ketemu baharus 'mbrengengeng' bacanya". Anak ini tahu si pak lik ini orang sangatpintar, tapi entah mengapa ia tidak cepat-cepat lulus dari IAIN di Malang.

Simbah juga sering membenahi 'pronunciation' lafal bahasaArabnya ketika ia disuruh 'nderes' atau membaca ulang turutan atau jus ammayaitu jus terakhir dari al quran yang dijilid tersendiri dan diberi latihan"membaca". ..

Tapi setelah kini dewasa, ia tahu sebetulnya hal itu  bukan membaca tapi membunyikan .. al quran.Mau disebut membaca juga tidak cocok, wong cuma membunyikan dan tidak ngertiapa-apa. Namun harus diakui bahwa si mbah uti memang betul-2 jago dalam'membaca' al quran. Bacaannya bisa cepat sekali tanpa ada salah lafal, panjangpendek bunyi selalu tepat. Seperti dukun baca mantra, hanya yang diucapkan mbahUti tak dapat dimengerti karena berbahasa Arab. Karena sering disalahkan paklik, uti dan ibunya, si Awang kecil ini jadi enggan melatih ngaji agar lancar.Ia hanya senang mendengarkan saja.

"Kok sedikit-sedikit salah? Mosok gusti Allah tidak mengampunikalau aku salah sedikit? Katanya maha pengampun? Lha aku lak wong Jowo yang takperlu lancar-lancar ngomel berbahasa Arab?"
"Salah banyak juga tidak apa-apa toh? Wong Dia itu mahapengampun, dan saya juga sudah berusaha."

Memang enak dan merdu mendengarkan suara mereka mengaji. Bedadengan dirinya yang masih blekak-blekuk dan sering salah membaca antara nundengan ba, atau ta dengan ya. Apalagi kalau si ibu yang mengaji, ia senangsekali mendengarkan dan selalu menjadi terkantuk-kantuk saking nikmatnya, lalutertidur tanpa mimpi atau dapat mimpi indah. Tapi sayang, si ibu sekarang adadi kota Malang yang berjarak hampir 50 km. Ada tiga orang adiknya yang ikut ibudi kota Malang. Kendaraan susah dan uang sangat terbatas untuk mengunjungi ibusetiap hari. Hanya kadang-2 saja terasa rindu kepada ibu, toh tiap minggu iadan mbak Anna bisa nunut kereta api jurusan Malang Blitar. Ada beberapaperistiwa lucu kereta Malang Blitar ini. Hal ini jadi bahan kritikan oleh paklik Ghofur yang sudah jadi orang kaya di Jakarta.

Simbah Uti tidak selalu berada dirumah, beliau sibuk 'keliling'mengunjungi anak-anaknya—atau paklik dan bulik si Awang kecil ini, karenaibunya merupakan anak mbarep dari simbah. Tapi kalau mbah uti – yangdipanggilnya 'Uti' saja—adalah seorang nenek yang sangat patuh kepada kakeknya.Suasana keagamaan di rumah besar ini adalah warisan dari kakek yang dulunyalulusan pesantren Tebuireng, Jombang. Beliau belajar kepada mbah yut HasyimAs'ari, adik si mbah yut Kediri. Entah siapa nama mbah yut-nya sendiri..Rosidi  apa gitu? Simbah sepeninggal mbahkakung menjadi merasa bebas untuk mengumbar kegemarannya berkelana, sebentar keMalang, sebentar ke Surabaya mengunjungi adik dan ipar-2nya, sebentar ke Blitaratau Kediri, pernah Awang diajak ke kediri dan Pare – kota dimana CliffordGeertz pernah tinggal dan menulis tentang orang Jawa, Santri dan abangan.

Tidak heran, di desa Kauman kecamatan Kesamben ini Uti pastimerasa asing, tidak 'feel at home' begitu istilah jaman kini, karena desa iniadalah desa kakeknya atau mbah kakungnya yang sudah meninggal beberapa tahunyang lalu. Uti paling rajin 'nderes' al quran, sebab katanya kalau membacasurah al quran ayat ini sampai ayat ini sekian kali, maka Alloh akan memberikan'ganjaran' atau pahala sekian kali lipat. Oleh karena itu, Awang harus ikutembah, ibu dan pak lik, yaitu sering-sering mengaji agar nanti di akherat Allohmemperhitungkan dengan tepat berapa kali lipat ganjarannya. Si Awang keciltidak begitu ngeh apalagi paham, "mosok gusti Allah kok kaya bakul di pasarKemisan yang itung-itungan harga kalau mau ngasih ganjaran. Kalau mau ngasih yakasih aja, khan beliau maha kaya seperti yang diajarkan ibu?" pikirnya. Cumasaja, ibu juga masih ikut-ikutan seperti mbah Uti, masih mengajarkan kepada siAwang untuk membaca surah ini sekian kali, surah itu sekian kali atau ayat inisekian kali dan sebagainya. Dan dengan antusias si Awang menurut pada ibukarena ia kepingin punya banyak uang, agar bisa menyusul bapak ke Banjarmasin.Ia lupa bahwa janji itu diberikan untuk orang yang sudah berada di akheratalias sudah mati. Bahkan ia makin semangat karena kakaknya yang mbarep, masRoel paling getol mengajak macam-macam. Sekolah madrasah sore khusus agama,atau nonton wayang!!

Mas Roel inilah seolah menjadi pembimbing pribadinya yang palingdominan di masa awal kehidupan intelektualnya, menjadi contoh 'orang hebat'yang harus ditiru.
Barangkali karena tangannya yang tidak berbakat atau karenamasih terlalu kecil, ia tak dapat mengerjakan sesuatu hal sebaik kakakpanutannya ini. Waktu pak lik mengajarkan melukis atau menggambar, mas Roelmelaksanakannya dengan sangat baik, bahkan rasanya indah sekali sama indahnyadengan yang dihasilkan oleh pak lik. Melukis dengan cat air, menggambarpemandangan telaga, gunung dan sawah. Memang indah, tapi menurutnya masihkurang inspirasi. Khayalan mas Roel dirasa kurang jauh,
"mengapa ikut-ikutan pak lik menggambar telaga, gunung dansawah? Khan bisa menggambar perahu layar Bugis dengan latar belakang sungaiBarito yang pernah dilihatnya di Banjarmasin? Atau menggambar perahu jukung,klotok, stempel (speed boat),  atau kapalbesar yang pernah dilihat di Tanjung Perak atau Trisakti?"

Sering ia ingin protes, tapi ia takut disemprot "kamu gambarsendiri". Kalau sudah begitu, ia tak berani berkomentar apa-apa. Dalam hati iabertekad,
"awas kalau aku sudah gede, aku mau nggambar yang lebih bagus.Pokokya aku harus lebih bagus dari mas Roel," meski diakuinya bahwa itu sulit,sesulit naik tangga ke langit. Mas Roel kalau mengerjakan apapun selalu rapi,perfek, sempurna, mana bisa dia mengalahkan masnya ini?
"Tapi biar, pokoknya aku harus lebih bagus." Kenyataannya,sampai sekian puluh tahun Awang tidak bisa menyamai kepiawaian Masnya ini,walaupun kadang ia berpuas diri karena ketika di perguruan Tinggi, ia pernahditerima masuk Jurusan Seni Rupa di PTN terkemuaka di Malang. Namun karena iamemilih 'arah agama', ia tidak jadi masuk. Padahal hasil tes masuk mata kuliahminor jurusan seni rupa yang dikejarnya telah berhasil mengalahkan sekian orangkandidat dari berbagai fakultas di PTN tsb. (Ia malah memilih jurusan bahasaArab). Test masuk itu adalah dengan menggambar beberapa obyek yang diletakkandi atas meja dan beberapa tes lain mengenai komposisi warna, tata letak,kreativitas dsb. Ia mendduduki ranking pertama dalam test tersebut. Dan iamerasa bahwa kehebatannya bukan karena bakat atau tangan dinginnya, tapi karenausaha kerasnya belajar menggambar tehnik di ST dan STM. Lain dengan Masnya yang punya bakat alam yang baik dan bertangan dingin, Awang masih harus berusahakeras sekali hanya sekedar menyamai hasi pekerjaan yang dapat dilakukan olehMasnya dengan mudah. Meski dalam hati ia ingin mengalahkan masnya ini, iapaling sayang kepadanya dibanding kepada siapapun. Mas Roel sering mengajaknyanonton wayang kulit!!

Ia paling seneng kalau nonton dekat layar 'keber' atau petinyaki dalang. Di belakang dalang, pasti ada sinden yang macak menor, dan kalau adapembagian makan di tengah malam, ia sering kebagian. Soto ayam yang jarangdikecapnya di rumah mbah Uti. Di rumah Uti, tiap hari hanya makan pakai tempeyang kulit kedelainya dicampurkan sebagai penambah volume sehingga tempe itumurah harganya, atau ikan asin.. seringkali dibakar karena tak ada minyakgoreng. Sayurnya tidak tentu karena sering memetik dari kebun di belakang rumah.Yang sering sayur lompong atau sayur batang talas yang banyak subur di belakangrumah, atau diantar oleh pak Din atau mbok Mi yang memperoleh entah darimana.  Atau jika tak ada sayur baru,sayur lama dipanaskan lagi, namanya 'blendrang'. Cukup sedap sebenarnyablendrang itu, tapi soto ayam lebih keren dan prestisius diujung masa awalpemerintahan pak Harto.

Bu sinden mungkin merasa kasihan melihat anak kecil yang tidakdekil-dekil amat tapi terus melihatinya makan soto berkuah banyak sambilmeneguk liur. Seringkali bu sinden pesan dua piring, dan satu diberikan kepadaanak yang memandanginya terus-terusan sambil meneguk ludah.Tapi ia tidaksendirian, ada beberapa anak lain yang juga mendapat 'jatah' dari warangganaatau para penabuh lainnya. Awang merasa ngantuk setelah makan soto, biasanyatertidur sambil duduk dan terbangun ketika acara lakon perang kembang mulai berlangsung. Perang kembang berartipara Punakawan dari kerajaan Pandawa keluar dan main. Mereka terdiri dariSemar, Gareng, Petruk, dan bagong. Mereka mengiringi kesatria yang dibegalditengah jalan oleh para raksasa. Biasanya oleh seorang raksasa mungil bernamaChakill beserta rombongan para raksasanya. Tabuhan dipukul keras-keras padatahap 'perang' ini. Paling kaget jika gong dipukul keras waktu 'buto' ataukarakter raksasa sedang dipukul atau di ko oleh seorang ksatria. Umumnyapenonton bersorak-sorak jika satu 'buto' sedang dihajar oleh ksatria.

Meskipun demikian, mas Roel tidak 'selalu' bersedia diikuti olehadiknya ini. Kadang dikarenakan teman-temannya yang lain jauh lebih besar daripada Awang. Barangkali mas Roel merasa enggan mengajak adiknya masih kelas 2SD, ia sendiri sudah kelas enam dan teman-temannya ada yang sudah SMP malahan.Namun demikian, Awang tidak pernah merasa kecil, ia merasa sejajar dengankawan-2 kakaknya yang sudah besar-besar itu. Toh ia lebih 'pemberani'dibandingkan dengan beberapa dari mereka. Atau, mereka kalah semua jika bermaincatur dengannya.

Pernah suatu kali, mas Roel hendak nonton wayang di desa Jugo, sebelahdesa kauman. Desa ini dari desanya Kauman, terhalang oleh sebuah sungai yangbernama sungai Sebeng, ada 2 jembatan yang menghubungkannya. Satu jembatan relkereta api yang sangat tinggi dan satu lagi jembatan jalan mobil. Cukupberbahaya jika menyeberang lewat jembatan rel kereta api tersebut karena pernahada orang yang jatuh dan patah kakinya karena kejeblos di sela-sela balok-balokkayu jembatan yang langsung menuju sungai berbatu.

Di seberang sana ada sebuah kuburan yang memisahkan antara jalanmakadam berbatu dengan jalan kereta. Anak-anak yang besar pada memilih jembatankereta api dari pada menyeberang lewat jembatan jalan biasa karena lebih dekat.Tapi bagi si Awang, ia lebih takut kepada bahaya yang nyata dari pada resikomenyeberangi kuburan di seberang sungai sana agar bisa berbareng menuju lokasiwayang kulit. Ia nekat lari menyeberangi jembatan jalan umum dan menyeberangkuburan di malam yang cukup gelap itu. Ia ingat ajaran ibunya bahwa hantu,medhon, peri prayangan, thethekan, memedi itu semuanya takhayul. Tidak ada.Kalau pakai bahasa sekarang, mereka itu tidak eksis.
Diseberanginya kuburan yang tidak begitu terang disinarirembulan sepotong. "Aku mau lari memotong kuburan aja."

Sepi dan mencekam. Hanya terdengar bunyi belalang dan jangkriksayup-sayup. Segala macam cerita seram tentang hantu tiba-tiba pada melintas dipikirannya, tapi Awang menepis semua cerita ngeri yang melintas di otaknya itu.Sampai di tengah kuburan yang agak gelap, di bawah pohon randu yang tepatberada di tepi sungai Sebeng, tiba-2 ada bunyi ..krasak.. hampir ia berteriak.Namun kenekadannya malah membubung naik seiring dengan ketakutannya. Denganseluruh bulu-bulu dan rambut meremang seperti landak, dihampirinya sumber suarayang cukup dekat itu. "Juan.. ehh.. jiangkrik..malam-malam begini masih adakadal berkeliaran. Dasar kadal sialan. Handak unda injak kah ikam?". Kalaumarah ia malah berbahasa banjar yang sudah hampir terlupakan, maksudnya "Maugua injek lo?".

Tiba-tiba ia dapat pemahaman..."Ahhh..ibu betul. Tidak adahantu, jim atau memedi... tapi kenapa ibu bilang setan itu ada? Mana buktinya,di kuburan aja nggak ada kok" dengan lega ia lari menyusul rombongan yangmelalui jembatan kereta api. Ia senang sekali bergabung dengan anak-anak yanglebih besar dari pada dirinya.

Ia mongkog dan merasa lebih dewasa dengan bergabung denganmereka, mana ada anak sebayanya yang bergaul dengan anak lebih dewasa? Ia jugajadi lebih senang waktu didapatinnya ternyata lakon wayang yang ditoton itumenampilkan banyak hantu-hantu atau 'jim' yang tingkahnya lucu-lucu. Adakelompok buto yang terdiri dari para raksasa yang beraneka macam dan makhluk-2halus yang macam-macam juga. Awang hanya merasa ngeri sesaat saja, ngeri olehtingkah 'lelepah' yang doyannya daging mentah, atau jurang grawah yang suka'nglethak' (mengerkah) kepala manusia. Yang paling tak dipercayainya tentu sirambut geni atau raksasa berambut api. "Bagaimana tidurnya? Semua bantal dankasur pasti terbkar semua deh.. kalau tidak pakai bantal, mana enak tidurnya?"

Awang juga sangat hormat pada pak lik Halid yang banyakmengajarinya macam-macam. Pak lik ini terkenal di seantero kecamatan karenakehebatannya bermain volley ball. Dia seorang 'tukang smash' (spiker) yangtaktis. Ada beberapa temannya yang hebat-hebat, misalnya kang Gendon yangpukulan smashnya menggetarkan lapangan dan lawan-lawan. Desanya, desa kaumanmenjadi terkenal karena adanya tim volley ball yang hebat ini. Saingannya hanyadesa Jajagan yang juga punya seorang smasher dahsyat. Namanya pak Jarkasi. IameRasa paklik pingin keponakannya bisa main volley. Namuan awang hanya bisanonton dan sorak-sorak. Mas Roel juga belum bisa main volley, masih kekecilan.Dunia kami masih dunia bermain, nonton wayang dan belajar agama.

Di rumah mbah uti ini ada lagi seorang pak lik, namanya pak likImin. Beliau ini pernah jadi pengeliling Indonesia, cita-citanya mau jadipengeliling dunia dengan berjalan kaki dan nunut-nunut kendaraan lewat. Dijaman sekarang, beliau bisa disebut seorang 'hitch hiker'. Tadi dikatakan bahwapak lik Halid menjadi adik bungsu ibu adalah disebabkan adik yang paling bungsumeninggal di Sulawesi tengah. Saat bulik Badri adik perempuan pak lik Halidmeninggal, awang sekeluarga masih berada di Banjarmasin. Pak lik Imin mengajakbulik Badri ketika pak lik berada di Palu, Sulteng. Beliau mengajak bulikkarena dirasa ekonomi pak lik cukup baik di rantau, dan sudah merasa cukuppengelanaannya. Sayang ketika itu ada wabah kolera atau typhus berjangkit diSulawesi, bulik yang sangat cantik itu kena wabah dan tak tertolong.

Awangmasih ingat ketika ibu membaca surat dari pak lik Imin tiba-tiba menjerit "Lho,anik mati?", lalu menangis seharian. Awang dan saudara-saudaranya hanyamemandang ibunya tanpa mengerti mengapa ibu menangis. Mungkin mas Roel sajayang mengerti. Sejak saat itu pak lik Imin seperti kena syok, beliau pulangkampung dan tak mau melakukan apa-apa. Mencoba memberantas penyelewengan"Bimas" (sebenarnya Bimbingan Masyarakat tentang Pertanian), malah salah omongperistilahan yang banyak berbau politik dan dipersalahkan, kemudian dimasukkanpenjara selama 2 tahun. Entah karena hal itu pak lik Imin semakin malasmelakukan apapun. Atau barangkali karena kalah dalam pemilihan kepala desa yangdilangsungkan sebelumnya.

Ia malah sering mengajak Awang mencari burung, atau membuatkanbeberapa macam mainan. Awang agak merasa takut-takut kepada pak lik Imin karenajenggotnya kasar dan rupanya seperti orang Timur Tengah. Tapi sangatmenghanyutkan jika beliau bercerita tentang perjalanan beliau di pulauSumatera. Beliau malah mengajarkan beerapa patah kata bahasa Minang,mengingatkannya pada satu keluarga Minang yang tinggal bersebelahan di Asramaserdadu di Banjarmasin. Pak lik Imin ini wajahnya mirip sekali dengan 'MakNgah' di keluarga minang tersebut. Yah, nggak jauh-jauh beda, usianya sepantar,matanya cekung, tajam dan kumis jenggot sering tumbuh kasar diwajah mereka.

Pernah pak lik dapat burung Gemak (puyuh) yang ditembaknyadengan ketapel.
"Wang, wang, ini dapatburung gemak!" dengan senang lik Imin membawa burung itu ke hadapannya,kelihatan senang dan bangga sekali.Pak lik Imin diceritakan ibu sebagaipenggemar burung atau 'potho manuk'. Tapi setelah ditunggui dan diperhatikan agak lama, burung itu takbergerak sama sekali.
"Wah, wis mati wang, daginge kharom" (Wah, sudah mati Wang,dagingnya haram).

Awang juga tak mengerti kenapa daging burung puyuh yang pintarpura-pura mati itu dibilang haram. Katanya, kalau bukan mati karena disembelihdengan nama Alloh, daging binatang jadi seperti bangkai, haram. Itu namanyasyare'at menurut agama Islam. Ia masih tidak mengerti, apa bedanya diketapeldan disembelih, atau disetrum. Semuanya dipakai untuk membunuh binatang. Tapikatanya, disembelih itu untuk mempercepat matinya hewan. Lho, kalau diketapelatau ditembak kepalanya khan lebih cepat? Sedangkan jika leher dingek-ngokpakai pisau, apakah tidak terasa sangat sakit dan pedih? Belum lagi menungguhabisnya darah yang mengalir ke otak sehingga otak tak mendapat oksigen,  dengan demikian matilah otak itu yang berartimati pula hewan itu. Berbeda jika diketapel ditembak kepalanya, otak langsunghancur dan mati seketika. Awang sendiri kalau harus milih, ia pilih matiditembak kepalanya jika dibandingkan mati disembelih atau dipancung. Entahlah,pikiran orang Arab jaman dulu khan beda dengan pijkiran modern jaman sekarang.Tapi ini syare'at, perintah Alloh lho. Tidak boleh dibantah.

"Ya sudah lik, dikasih ke kucingnya mBok Mi saja?"
"ya, sembelih dulu ..pegangi ... bismillaaah"
Burung itu disembelih, terasa dipegangan awang bahwa burung itumenggelepar-gelepar. Sekarang setelah tua ia tahu, ternyata burung itu tidakmati, hanya pura-pura saja. Itulah tipuan alamiah hewan liar sebagai alatsurvivalnya, namun karena sudah di 'nash' haram, maka ia tak berani protes.Burung itu dipotong-potong dan diberikan kepada kucing, bersama seorang balitabernama 'dik Atin' anak perempuannya mBok Mi.

To be continued

1 komentar: