Minggu, 06 Januari 2013

1969 I Love U Beibeh

oleh Setya Ananta Sis pada 20 Agustus 2010 pukul 20:15 ·
Masjid adalah pusatkegiatan keagamaan di desa Kauman. Sholat rutin berjamaah yang dilaksanakan Awangadalah sholat Maghrib dan Isya. Jarang sekali ia bolos dari sholat berjamaah dikedua waktu tersebut. Pada awalnya ia tanpa prasangka sama sekali ikutberjamaah dan merasa khusyu' sekali. Namun setiap duduk dan membaca syahadat,ia mendengar orang disebelah kanannya terkikik-kikik tertawa sewaktu sedangsepi-sepinya dan semua orang khusyu membaca doa sholat. Lama kelamaan Awangmenjadi heran mengapa orang disebelah kanannya selalu tertawa secara sembunyi-sembunyi,ia melirik ke kanan, dilihatnya pemuda di sebelah kanannya sambil solat kadangmelihat jari telunjuknya yang menuding. Jari itu pendek dan bentuknya memalukansekali, sepertinya ia sedang memegang kemaluan laki-laki. Pantas orang disebelah kanannya selalu tersenyum atau tertawa terkikik-kikik jika merekasholat di sebelah kanannya.

Mulailah Awang kecilini merasa malu atas kekurangan dirinya, maka sewaktu bersyahadat, ia engganmenudingkan telunjuknya. Apalagi menggerak-gerakan telunjuk.

Ia khawatir orangdisebelahnya akan terbahak-bahak melihat ia menggerak-gerakkan jari telunjuknyayang berbentuk seperti kemaluan laki-laki itu. Pernah ia mencobanya karena guruagama mengajarkan agar jika mengucap syahadat, ia harus menggerak-gerakkan jaritelunjuk. Kebetulan ia berada di sebelah seorang pemuda Kauman yang beberapahari lalu juga berada di sebelah kanannya, pemuda itu terbahak, kemudianberanjak keluar dari shaf dan mengulangi sholat di belakang barisan. Ia ingat,pemuda itu pendek kekar berambut lurus dan berbaju biru, pakai sarung tanpa peci.
Mungkin ia merasa bahwasholatnya batal karena tertawa. Awang merasa malu sekali. Mulai saat itu iasangat enggan mengikuti syare'at Alloh yang brengsek ini. Syare'at yang hanyamempermalukan dirinya. Ia hanya menggenggamkan tangannya saja ketikamengucapkan syahadat. Atau jika ia merasa bersalah kepada Alloh, ditutupinyajari telunjuknya dengan jempol. Kadang ia melirik beberapa orang yang sedangmembaca tahiyat akhir... kebanyakan menudingkan telunjuk dan menggerakkan keataskebawah. Paling tidak semua menudingkan jari telunjuknya, tidak ada yangmemegang dengkul saja.

"Wah, kalau akumenggerakkan seperti itu, tentu akan seperti kemaluan tegang yangberkedut-kedut!" pikirnya.

Memang ia pernahmendengar seseorang yang berbisik "koyo peli nga*eng" (seperti kemaluan ereksi)waktu ia mencoba taat kepada syare'at Alloh ini. Entah siapa yang berbisikbegitu, ia tak kepingin tahu. Ia benar-benar tak ingin tahu siapa yangmembuatnya merasa bahwa bagian dari tubuhnya yang sangat mesum harusditunjukkan di depan umum, lalu menunjukkan dan memain-mainkan bagian tubuhyang mesum itu diberi pahala sunnah.

Jelas Awang merasasangat malu, maka ia mulai mencari strategi. Setiap sholat berjamaah, iamencari tempat yang paling kanan, kalau perlu paling pinggir mepet tembok. Tapistrategi ini tidak selalu berhasil. Jika ia berada di sisi paling kanan, namunketika ada orang baru yang masuk shaf, maka selalu ada seseorang yang berada disebelah kanannya. Hampir bisa dipastikan orang itu akan tertawa ketika sholat,paling tidak tersenyum simpul.

"Hmmm, rupanya akuharus menunggu sampai satu shaf hampir penuh, lalu berebut mengambil sisipaling kanan dan mepet tembok." Pikirnya.

Kemudian ia mulaiterbiasa untuk melihat dulu posisi shaf sebelum ikut menjadi makmum sholatberjamaah. Ia lebih suka telat daripada mengusik konsentrasi orang lain. Ia takingin mempermalukan diri sendiri ataupun mengganggu sholat orang lain. Namundengan berjalannya waktu, ia mulai berpikir,

"Ah, ini khan syare'atyang sunnah saja. Ngapain kalau aku ikut sunnah tapi malah membatalkan yangwajib?"

Awang mulai meremehkansunnah dan mengutamakan yang wajib-wajib saja.

"Tidak usah menudingsaja, digenggam saja kan tidak apa-apa to? Wong Alloh maha tahu"

"Nah.. Alloh Mahatahu..!!" Awang seperti mendapat ilham, wahyu atau wangsit, embuhlah.

"Jadi masa bodoh apakata orang kalau aku tidak menudingkan jari telunjuk agar orang lain tidakbatal sholatnya dan aku tidak malu."

"Tapi benarkah AllohMaha tahu?"

"Sepertinya beliau itutidak tahu bahwa syare'at itu nanti akan mempermalukan seorang hambanya yangbernama Awang, dan akan membikin hambanya itu malu dan susah seumur hidup"
"Lalu kalau Alloh hayamenyusahkan saja, pasti ia tidak adil"

Awang mulaimempertentangkan konsep "Maha Tahu" dengan "Maha Adil". Awang tidak pernahberhenti menanyakan kedua sifat Alloh ini kepada setiap guru agama di sekolahmaupun di luar sekolah. Terutama di pengajian-pengajian. Tetapi ia belum pernahmendapat jawaban yang memuaskan.
Setiap kali ia membacaAssalaamu 'alaikum... lalu menoleh kiri kanan, yang berarti sholat berjamaahusai, ia merasa lega sekali. Selesai sudah siksaan kepada dirinya yang harusdijalani 2 kali sehari. Kecuali hari Jum'at. Ia harus mendapat hukuman siksa 3kali sehari di hari Jum'at, siksaan batin yang tidak dapat ia utarakan kepadasiapapun. Tidak juga kepada ibu yang pasti akan membela agamanya, dan malahakan menyalahkannya jika ia protes mengenai syare'at yang dibencinya ini.

Benih kebencian kepadasyariat agama mulai tumbuh dalam batin Awang. Tak seorangpun tahu kecuali Awangsendiri.
Namun sesekali iasenang dengan kedatangan seseorang yang nyaris tak pernah mentertawakannya. Ialihat Beibeh yang gagu berada diantara shaf sholat maghrib hari itu. Oooooh Ilove you beibeh, mungkin begitu senangnya ia berjumpa dengan kawan yang satuini. Jika bertemu siang hari, Beibeh mau saja disuruh memanjat kelapa,memetikkan kelapa muda yang bisa diminum airnya. Segar sekali minum air kelapamuda di siang hari. Beibeh dengan senang hati membantunya, ia sendiri jugamengambil sebuah untuk diminum.

Beberapa tahunkemudian, ia ketemu lagi dengan Beibeh, ia tak pernah lupa pada wajah Awang. BeibehTetap menyenangkan namun dengan gaya yang sudah berbeda. Ia senang berceritadengan kegaguannya tentang bioskop yang ditontonnya. Ia senang menirukan pemainkungfu yang menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nafas kuat-kuat danmengeraskan otot-ototnya. Memang cocok sekali, badannya meski tidak besar,berotot keras seperti badan Jet Li atau Bruce Lee. Bahasa isyarat yang digunakanpunbetul-betul khusus untuk dirinya sendiri, namun mudah dipahami orang lain.Untuk menunjukkan gender laki-laki, ia hanya menggaris didaerah kumis dua kali.Untuk menyatakan wanita, ia hanya mengepalkan dua tinjunya didepan dada. Sumurhanya dengan melongok ke bawah. Tak habis-habis Awang tertawa menikmatikomunikasinya dengan Beibeh. Kalau punya uang, ia tak segan membelikan dawetmbah Jari yang segar di gardu jaga dekat Gudang Kapuk.

Awang mengira, Beibehdatang ke Masjid dengan sengaja karena kepingin ketemu dengannya. Beibeh tahunahwa setiap maghrib dan Isya, Awang ada di sana. Awang dapat merasakan karenabeberapa hari lalu ia melihat Beibeh di kenduri di tempat ayahnya kang Gendon.Disana diadakan kenduri karena pak Kromo mau mengadakan upacara mantu, adiknyakang Gendon mau dikawinkan dengan seorang pande besi. Entah berapa hari lagiperkawinan akan berlangsung, tapi kenduri harus dilaksanakan lebih dulu. Ituaturan adat Jawa, nanti ia akan tanya kepada ibu mengenai aturan-aturan orangJawa demikian itu.

Kelihatan Beibeh beradadiantara para tamu yang duduk mengelilingi satu tumpeng nasi putih berbentukkerucut, lauk pauk mengelilingi kerucut gunungan nasi dan satu yang menggiurkan.. ..seekor ayam kampung yang disebut ingkung ditaruh di piring tersendiri.Awang hanya bisa menelan ludah melihat kepungan kenduri itu dari luar. Iamelongok ke dalam dan kebetulan matanya bersamplokan dengan mata Beibeh, tapiBeibeh tidak memberikan reaksi spekatakuler, barangkali merasa sungkanmengeluarkan suara ah uh gaduh di antara tamu kenduri yang nampak khidmat itu.Hanya sedikit aah saja sambil melambai-lambaikan tangan memanggil. Saat ituBeibeh sudah sebesar remaja tanggung.

"Gus Awang kesini..!"Ia mendengar suara memanggil. Ooh, ternyata bu lik Ah istrinya pak Kromo yangmemanggil.
"Sini lho, masukkedalam..!" Ia diajak masuk ke dalam di bagian dapur yang sudah tertata rapi.Ia disuruh naik ke amben yang beralaskan tikar dan ada beberapa piring makananberwarna warni, ada rengginang putih merah, wajik, juadah, madu mongso, apem dan sebagainya.
"Maem ya gus?" Bu Kromomenawarkan. Awang menolak karena kenduri kedengarannya sudah usai. Didengarnyasuara Beibeh yang khas ah uh ah uh yang berjalan menjauh. Awang merasa duduknyatidak nyaman karena ingin sekali ia menemui Beibeh untuk sekedar omong-omongsebentar dengan kawan gagu tersebut. Tentu omong-omongnya dangan bahasa isyarat,seingatnya Beibeh belum pernah meledek atau menggodanya. Bagaimana seorang gagubisa meledek orang tidak gagu..? Eh tidak ding, ia pernah menirukan denganmenekuk jari-jarinya dan berteriak aaah aaah..lalu memegangi jari-jarinya.Awang tidak menarik tangannya, dibiarkannya Beibeh memeriksa jari-jarinya yanganeh. Beibeh berteriak lagi "Aaaah.." dengan muka setengah tertawa, memandangiAwang dengan muka geli tapi kelihatan mengasihani. Lalu berteriak lagi "aaah..."sambil merogoh celananya sambil tertawa-tawa. Mungkin ingin mengatakan bahwajari-jari Awang seperti kemaluannya. Awang tidak marah, tidak sakit hati karenasudah biasa ia diledek sejak kecil. Tapi yang ia rasakan si Beibeh bukan inginmeledek, hanya takjub saja dan merasa agak geli. Awang hanya merasa senangsaja..Ya, I love you Beibeh.
"Dimakan gus..!" katabu Kromo yang lebih sering kami panggil Lik Ah.
"Ya lik, dimana siNang?" tanya Awang menanyakan si Nang. Kalau dibahasakan Jawa, kepanjangan namasi Nang itu berarti 'mendengar', ia merupakan anak yang seusia dengan mbakAnna, tapi itulah yang paling sepantar dengan dirinya dan masih mau bermainatau bercanda dengannya.
"Wah, embuh.. tadi adadisini"
"Liii.,., Liii,.,.kemana si Nang?" Ia memanggil Kang Li. Kang Li ini juga bertubuh kekar sekali,otot-ototnya nampak melingkar-lingkar waktu ia buka baju. Ia sering memikulberas untuk dijual oleh Lik Ah di dekat Gudang Kapuk.
"Gak tahu mak, mungkindi jembatan"
Jembatan itu adalahjembatan jalan mobil terbuat dari besi dan papan-papan tebal melintasi sungaiSebeng yang dilaluinya ketika ia hendak nonton wayang di desa Jugo.
"Panggil kesini, inilho Gus Awang ada disini.."
"Tidak usah Lik, sayamau pulang saja, sudah sore, takut nanti telat sholat ashar.."
"Ya gus, tapi inidibawa" Kata lik Ah sambil mengangsurkan bugkusan.
Awang menerimanya lalubergegas ke masjid, tak lupa ia balik dulu ke rumah sambil menyambar sarungyang tergantung di tali jemuran. Bungkusan itu dibukanya di Masjid, ternyataisinya kue-kue yang tadi dilihatnya di rumah pak Kromo. Cukup banyak untukdibagikan dengan beberapa anak di mesjid yang datang awal untuk sholat Maghrib.Awang sendiri tak sempat mengambil kue.
Ia buru-buru ambil airwudlu dan sholat ashar secara kilat agar tidak kesusul bedug maghrib. Itu yangsering disebut oleh ibu sebagai sholat seperti "patok-patok ayam" atau "koyopitik thuthul-thuthul".

Masa bodo .. .. Yeeeah,I love you Beibeh.







Serang, 20 Agustus2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar