Minggu, 06 Januari 2013

1969 Anak nakal Dari Kauman

oleh Setya Ananta Sis pada 19 Agustus 2010 pukul 18:23 ·
Ada klarap cicak terbang yang melayang dari satu pohon ke pohontanpa suara. Ada burung emprit di sawah belakang yang sibuk menarik-narikjerami kering sarang anak-anaknya. Dari dalam masjid di depan rumah yang besaritu suara tokek yang bersembunyi di belandar dekat bedug raksasa yang lebarnyalebih tinggi dari pada tinggi badannya. Matahari dengan garang memanasi bumihari itu. Ayam pada malas berkeliaran cari makan, hanya mendekam di kebundibawah pohon asem besar di belakang sambil mengais-ngais tanah mencari-carimakanan yang bisa dipatuk-patuk.

Binatang-binatang yang sedang asyik dengan kegiatannya ituterkejut oleh teriakan suara peluit sepur grung yang datang dari Blitar danmenuju Malang. Sepur grung berarti kereta api dengan lokomotip penarik yangbermesin uap. Peluitnya ada dua macam, peluit kecil dan besar. Yang kecilmenjerit "tuuuiiiiittt" dan yang besar menggerung dengan suara membahana "grooouuuunggg" layaknya seekor singa yang siap berhantam. Akan tetapi keduapeluit itu kedengaran agak lemah dari rumah Uti, hanya sedikit berisik ketikamelintas dari barat ke timur, menandai saat itu adalah tepat jam sebelas siang.

"Mbook, kucinge endiii?" terdengar jeritan gadis kecil. Rupanyambok Mi sudah pulang dari pasar berjualan kelapa.
Jam sebelas adalah waktunya mbok Mi mengerjakan rutinitas di rumahUti. Dik Atin yang masih berusia balita selalu ikut mboknya kemanapun ia pergi.Kucing hitam yang ditemukan Lik Imin itu sangat disenanginya. Kucing yangdulunya kurus dan dekil itu sekarang sudah agak besar dan gemuk menggemaskan,bulunya hitam mulus dengan belang putih sedikit di kepala, kaki depan dandadanya. Jadilah ia sebagai boneka mainan dik Atin, digendong kesana kemari.Awangjuga suka main dan menggoda kucing lucu itu. Lik Iminlah yang mengajari Awangdan Atin bermain dengan kucing. Pak lik Imin juga pernah menunjukkan fotonyawaktu masih muda, ternyata ganteng sekali, dengan kumis tebal hidung mancung,persis bintang filem.

Mbok Mi sudah janda dengan 2 orang anak. Anaknya yang sulung laki-laki,ikut mbah Jeni yang tinggal di turunan sebelum jembatan sebeng. Mantan suaminyajuga kadang tinggal di situ membantu mbah Jeni membenahi dan membangun rumahyang letaknya terhalang oleh satu pekarangan lagi di sebelah pekarangan Uti.Mantan Suaminya ini katanya orang Sumberpucung, jadi kalau bicara tidak sepertiorang Blitar, lebih mirip orang kota Malang. Kalau menanyakan "bagaimana?" bukandengan "piye?" tapi dengan "Yak Opo?". Awang yang masih menerima semua bahasaitu juga masih tidak paham dengan bahasa Blitar dan Malang yang agak berbedaitu. Tapi ditelinga orang Jawa Timur, bahasa mereka bukan agak berbeda, tapijauh berbeda. Tahun lalu bapak mengantar seluruh keluarga pindah ke pulau Jawasetelah tinggal di pinggiran kota Banjarmasin selama kurang lebih 2 tahun.Awang hampir tidak bisa lagi berbahasa Jawa. Rasanya mbak Anna juga sudah lupabahasa Jawa waktu pertama datang di pulau Jawa, tapi kini malahan sudah hampir lupabahasa Banjarnya. Sama seperti si Awang yang hanya ingat samar-samar bahasaBanjar.

Suara sepur itu juga menandakan saatnya hati Awang biasanya melonjak-lonjakkepingin mandi-mandi di kali sebeng dengan teman-teman, memandikan kerbau, ataubermain adu gempu, yaitu bola yang dibuat dari pasir basah yang digosok denganbasir setengah kering. Hobi mandi di kali dan kena panas terik ini membuatkulit Awang menjadi coklat gelap mendekati hitam dan kakinya seperti bersisikkarena daki tanah yang tak bisa dihilangkannya waktu mandi.

Saat ini Awang agak enggan bermain. Tadiwaktu minta makan kepada mbok Mi, dia 'diceramahi' oleh si mbok bahwa mbah Utisudah beberapa hari tidak memberi uang belanja. Sekarang mbok Mi juga tidaktahu mbah Uti sedang ada dimana, di kediri, malang atau surabaya.
"Gus Awang, sekarang kan nggak ada uang.Saya yang beli beras buat sekeluarga, pake uang saya sendiri. Kemarin saja buatbeli tempe dan beras saya keluar duit tiga puluh rupiah. Pernah kemarin waktuberapa hari lalu saya keluar duit seratus, biar Gus tahu bahwa saya tinggaldisini tidak gratis. Padahal jualan kelapa berapa sih untungnya?" Katanyadengan mata plirak-plirik agak sengit rupanya.
"Wah, jajan saya saja hanya setengahrupiah, atau paling banyak satu rupiah".. "Pasti banyak sekali seratus rupiahitu.." pikir Awang. Ia sendiri tak pernah pegang uang sebesar seratus rupiah.

Awang jadi agak sungkan makan di rumahmbah Uti sepulang sekolah. Kalau tidak ada makanan, ia jalan kerumah mbah Yutdi dekat jalan masuk gang Santren (Pesantren? Tidak ada pesantrennya kok?).

Di tempat mbah Yut atau mbah buyut yaituibu dari mbah kakungnya yang sudah meninggal duluan, ia bisa dapat makan tanpaminta. Setiap kali datang di tempat mbah yut, selalu makanan disediakan oleh mbokYah, pembantunya, atau oleh mbah Sri yang gagu dan sudah bonkok itu. Kadang iabisa dengan bebas ambil parang dan memotong tebu di kebun dekat pagar bambu gudangnyaCia, keluarga keturunan Cina yang menyewa tanah mbah Buyut. Tebu itudinikmatinya di dalam kebun itu juga, enak sekali menggeragoti tebu yang"crunchy" kemripik dan manis berair banyak. Jam sepuluh sebelum sepur lewat,sarapan pasti sudah matang, sayurnya juga masih panas mengepulkan uap. Lauknyatempe benguk atau tempe kelas 3 yang banyak mengandung kulit ari biji kedelai.(Ternyata diketahuinya puluhan tahun kemudian bahwa kulit ari kedelai banyakmengandung serat yang baik buat perut dan vitamin bagi tubuhnya) Paling tidakseminggu dua kali Awang makan di tempat mbah Yut. Mbah Yut dulunya adalah orangterkaya di kecamatan Kesamben. Beliau sudah sepuh sekali, berjalanpun sudahsusah, badannya bongkok dan pandangannya sudah agak kabur.

Awang juga tahu si mbok Mi memang getolpergi ke pasar, menjual kelapa dengan kulakan dari penjual yang lewat di depanrumah. Orang yang hilir mudik itu lebih senang kalau dagangannya laku didekat-dekat Mesjid situ saja sebab mereka sudah cukup kecapaian menggendongdagangan dari kampung "Cobanteng". Ia tahu kemudian bahwa Cobanteng adalahsingkatan dari Reco Banteng, atau patung seekor banteng entah dari jamankerajaan apa yang pernah ditemukan di dukuh tersebut. Jarak dari Kauman keCobanteng sama dengan Kauman ke pasar Kesamben. Belum dihitung turun naiknyajalan yang agak curam dan becek di musim hujan. Jadi sudah menghemat separuhtenaga bagi para penjual itu.

Lalu mau apa hari ini? Bikin wayang!! Yamembuat wayang kulit sangat mengasyikkan, meski tidak menggunakan kulit. Dirumah mbah Uti terdapat banyak karton bekas pembungkus mesin jahit danbarang-barang lain yang dibawa dari Banjarmasin. Ada bekas pembungkus mesinSpeed Boat yang bermerek yohenson ("Johnson"). Mbak Anna begitu kalau membacakarton tebal dan berlapis itu. Dari pada dibuang, ia minta bantuan mbak Annamengelotoki karton itu selapis demi selapis, memisahkan bagian tengah yangberlekuk-lekuk itu agar terpisah dengan bagian luarnya yang lurus dan cukuptebal. Nanti kalau dimainkan pasti seru, dia bisa menjadi dalang utama dengantabuhan mulut. Mbak Anna bisa menjadi dalang cadangan kalau mulutnya sudahcapek. Cuma saja, mbak Anna terlalu kreatif, kertas karton yang sedianya akandia bikin tokoh Indrajit, musuh kesatria kera Hanoman sudah digunting mbak Annamenjadi wayang berupa seekor kambing!! Gagang penjepit juga sudah dipasang,mulai dari pantat menuju kepala kambing tersebut, lalu mbak Annamendemonstrasikan cara memainkan karakter wayang kambing. Kambing itudimainkannya dengan diselingi bunyi "mbeek" dan menyeruduk berkali-kali. Sangatberlawanan dengan mas Roel yang kurang kreatif tapi bekerja rapi. Awangmemperhatikan ini, jadi ia lebih senang bekerja cukup kreatif, dan tidak kalahrapi karena ia bisa pinjam dulu karakter tokoh wayang dari kang Mujiono,adiknya kang Jaet.

Kang Jaet dan Mujiono ini tinggal di dukuhKunden di sebelah barat Kauman. Mata pencaharian penduduk Kunden rata-ratamembuat Gerabah. Kuali, penggorengan, kendil, kendi, anglo dsb di kecamatan Kesambenbanyak diproduksi di dukuh kunden ini. Hubungan penduduk Kunden dan Kaumantidak terlalu harmonis. Sebagian penduduk kunden beragama kristiani dansebagian beragama Budha. Kang Jaet ini suka kritis jika ikut pengajian dimesjid. Di kemudian hari, didengarnya bahwa kang Jaet pindah agama, jadiberagama Budha. Pak lik Halid bercerita seolah-olah kang Jaet sudah berubah menjadisetan yang tidak boleh didekati. Beberapa orang juga pernah bilang bahwa merekamenyaksikan kang Jaet dilempar batu bata oleh Jin Islam penunggu mesjid karenaomongannya banyak yang nggladrah seperti orang kafir. Ia suka bertanya kenapasebagai orang Islam harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak bolehbegitu dsb.

Awang suka mampir di rumah mereka karenakang Mujiono pintar bikin tokoh wayang, ia pernah pinjam tokoh Gatotkaca,antarejaatau antasena. Dibawanya sepotong karton di tas sekolah, kemudian waktu pulangsekolah sewaktu melewati rumah mereka ia mampir untuk menjiplak anak-anak Bimaitu ke kartonnya. Kang Mujiono senang diampiri oleh Awang, ia diberi satu tokohwayang Hanoman yang terbuat dari plastik merah. Buatannya bagus sekali, sangatmirip dengan wayang kulit asli.

Nah, dengan menjiplak wayang-2 milik kangMujiono ini mas Roel atau mbak Anna pasti kalah pinter dalam membuat karakter "wayangkarton".  Buatan Awang jadi paling bagus,tidak seperti buatan mbak Anna yang pletat-pletot, atau bikin wayang dlm bentukkambing!!

Ia juga merasa bangga karena wayangnyajauh lebih pantas dari pada wayang karton yang dijual oleh pedagang-2 asongandi pasar yang buatannya kasar dan pletat-pletot itu. Entah apa yang dipikir paklik Halid yang suka mengajak tiga keponakannya ini untuk nonton wayang. Awangmerasa bahwa yang cinta berat kepada wayang kulit bukan pak lik Imin atau paklik Gofur. Ibu pernah bercerita bahwa salah satu dari pak lik Imin atau pak likGofur ini hobi berat akan wayang kulit hingga ia digelari "thoyang" (pothowayang atau gila wayang). Ia rasa pak lik Halid inilah "thoyang" yangsebenarnya, yang asli, selain dirinya sendiri. Barangkali mbak Anna juga sudahketularan jadi setengah thoyang. Di bulan puasapun pak lik Halid masih mengajakAwang dan Mas Roel untuk nonton wayang kulit semalam suntuk. Kadang jugabertiga diajaknya semua. Untuk sahur, mereka membawa bontotan atau bekal darirumah berupa nasi dibungkus daun pisang dengan lauk ikan asin dan sambal bajag.

Dikemudian hari, dugaannya ini terbuktikarena anak tunggal pak lik Halid dicekokinya dengan banyak sekali komik-komikwayang mahabarata dan ramayana, mungkin agar anaknya dapat belajar darikearifan kisah-kisah yang sebenarnya berasal dari agama Hindu ini, ataumemperlihatkan cerita menarik dari Timur, entahlah.

Paling tidak, pak lik Halid padahakekatnya telah sukses mengajak Awang melihat kearifan agama lain, agama Hinduyang oleh keluarga Kauman ini dianggap kafir, salah dan pada masuk nerakanantinya di akherat. Awang dapat melihat bahwa konsep ketuhanan monotheisme yangasli sebetulnya berasal dari agama Hindu. Monotheisme yang digembar-gemborkansebagai "Agama Samawi" itu berasal dari konsep 'brahman' yaitu Dzat yang takdapat dimusnahkan atau diciptakan. Ini jelas sekali diceritakan dalam BhagwadGita, dialog Arjuna sebelum ia berangkat perang di medan perang Kuru Setra. OrangTimur Tengah tahunya orang Hindu bertuhan tiga. Menyembah Trimurti, tigadewa—pencipta, penjaga dan penghancur. Mereka tidak kenal konsep avatar, ataupengejawantahan, inkarnasi. Tiga dewa itupun sebenarnya pengejawantahan darisang Hyang Widhi atau Dzat Asal yang tak dapat dimusnahkan atau diciptakan.Agama Timur tengah itu malah "memanusiakan" DZAT itu dengan merumuskan "lam yalidwa lam yuulad" atau "tak dapat beranak dan tak dapat diperanakkan". Istilahnyasaja sangat manusiawi, jauh dari transendental yang mengarah pada alamspiritual. Dalam kajian-kajian terakhir, diistilahkan 'dzat' itu sebagaiQuantum. Dzat terkecil dari unsur subatomik tapi juga terbesar (maha besar) darimakro kosmik jagad raya karena DIA itu memenuhi semua ruang bahkan ruang kosongdi jagad raya sekalipun. Ia membentuk segala makhluk, konkrit maupun abstrak. Dzatilahiah inilah yang tak dapat diprediksi apa maunya, bagaimana bentuknya, danhanya diketahui bahwa ia berbentuk energi, power atau kekuatan, kekuasaan yangmaha besar.

Mata dan telinga para pengklaim kebenaranitu tertutup oleh rivalitas kesukuan. Rivalitas Superioritas Yahudi dan PanArabisme. Rivalitas atau persaingan kekuasaan yang telah menutup mata dan hatiterhadap kearifan yang berasal dari Timur. Sumber asli dari ketauhidan agama-2timur tengah. Tapi contekannya malah mengaku sebagai agama samawi atau agamayang 'turun dari langit' dan agama-2 lain dituduh sebagai agama budaya atauagama ciptaan manusia.

Kalau dipikir lebih jauh, dimanakahlangit? Kalau bumi dilihat dari galaksi Andromeda, maka bumi akan nampaksebagai daerah yang berada di langit. Jadi agama apapun yang tercipta adalahagama langit atau agama 'samawi' jika dilihat dari galaksi lain atau planetlain. Konsep 'samawi' ini ternyata merupakan konsep primitif dari sekelompokmanusia yang sok superior dan mengklaim diri sebagai 'yang paling benar'.Kenyataanya? Sangat menggelikan.

Awang juga belum paham akan hal-hal diatas, ia baru paham beberapa puluh tahun kemudian setelah ia banyak bersentuhandengan budaya-budaya lain. Ia baru mulai paham ketika ia belajar fisika di STMtentang hukum kekekalan energi.

Yang ia tahu adalah bahwa hidup tanpadidampingi orang tua di Kauman tidak terlalu jelek. Kalau ibu datang ke Kauman,mereka bisa berkumpul setelah sholat Maghrib. Pak lik Imin biasa duduk di dekatpintu kamarnya di depan, Awang, mbak Anna, ibu dan tiga adiknya berkumpul dibawah lampu minyak besar sambil menceritakan kembali dongeng yang seringdiceritakan sebelum tidur. Dik Atin juga senang ikut berkumpul dan digoda olehmbak Anna. Dia disuruh mbak Anna untuk menceritakan dongeng kancil yang kenadiperangkap oleh petani. Dik Atin bisa mengakhiri cerita dengan sangat lucu"Kancile njur dipethik ganjut pulut" atau "kancilnya kena dipetik menempel digetah". Rangkaian kata yang tak masuk akal sama sekali, tapi diucapkan seorang balitadengan amat yakinnya seolah-olah ia pendongeng profesional.

Kalau ibu ada dirumah Uti, jajanan pastitersedia. Paling tidak, penjual gethuk yang tiap hari lewat dan hanya dipandangsaja oleh Awang akan dipanggil oleh ibu. Berarti makan gethuk yang mainisdengan taburan parutan kelapa. Kadang diberi tambahan kicak/kue singkong dengantetesan 'juruh' atau sirup gula kelapa yang manis dan sedap. Biasanya ibudatang ke Kauman kalau sudah mendapat kiriman dari bapak di Banjarmasin. Kalaulama tak mendapat kiriman, ibu kelihatan sedih, pernah di Malang, ia memergokiibunya yang sedang menangis sedih. Entah apa yang ditangisinya, tapi saat itudi rumah di Asrama Tentara di Malang itu sedikit sekali makanan yang dapatdijumpainya. Kalau ia minta jajan, ibu malah marah dan mengajari berhemat.

Yang sangat menggembirakan lagi, pak likHuda datang, entah dari Cimahi atau Jawa tengah. Pak lik yang satu ini palingtidak diketahuinya. Misterius. Menurut kabar, pak lik sedang berjuang untukmenjadi polisi. Ia pernah minta restu kepada bapak bahwa ia dan mbah Ajam inginmenjadi Abri. Kala itu kepolisian masih tergabung dalam angkatan bersenjata.Bapak merupakan satu-satunya manusia yang masuk angkatan bersenjata di keluargamBah Yut Kediri, mBah Yut Jombang, maupun mBah Yut Kesamben. Pak lik Hudabanyak bertanya kepada Bapak tentang bagaimana cara masuk angkatan bersenjata.Beliau dan mbah Ajam usianya sepantar. Badan mereka sama tinggi besar dankekarnya. Karena lik Huda hanya tinggal dua hari saja di Kauman, Awang ingin lebihkenal dan ia tidur ditemani pak lik Huda. Sebelum tidur, Awang mintadiceritakan sebuah dongeng. Tentu saja pak lik huda bingung, mau cerita apa?

Beliau tak kurang akal, dimulai daricerita nabi Yusuf yang sukses mengumpulkan gandum di negeri Mesir, negerinyaFiraun. Pak lik memulai:
"Ini ceritanya panjang sekali, mungkin takakan selesai diceritakan semalam suntuk.."
Awang malah sanga takjub dan tertarik, "yaya pak lik, mulai saja..."
"Ya wis, waktu itu Allah melihat bahwapenduduk mulai lupa kepada tuhannya. Allah mengirim belalang kecil-kecil untukmenghabiskan gandum penduduk Mesir."
"Satu belalang mengambil satu butir gandum,lalu terbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
Hampir lima menit pak lik Huda mengulangkalimat yang sama.
Awang protes, "Kok ceritanya begitu? Manaterusannya?"
"Lho, masih lama... kan gandumnya ada bergudang-gudang...jadi..."
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
...
"Waaah berhenti pak lik, bosen. Mosok gitulagi.."
"Lhoooo... kan saya sudah bilang, ceritanyalama dan panjang sekali", kata pak lik Huda sambil ketawa geli. Awang merasadikadali, mengambil bantal dan menutup telinganya terus tidur.
Keesokan harinya sebelum pergi sekolah,Awang celingak celinguk mencari 'pak lik Aneh' yang tadi malam. Tapi takditemuinya dimanapun, katanya pak lik sudah pergi lagi. Entah ke Bandung,Cimahi atau ke Magelang. Ibu juga akan berangkat ke Malang, Awang merasa sedihsekali karena akan ditinggal lagi. Ia mulai merengek ingin ikut ibu ke Malang.Ibu membujuk agar tetap tinggal di Kauman dan bersekolah, tapi Awang tak maumengerti
"Pokoke nderek ibuuuuk.." (Pokoknya ikutibu..)
" buuuk ndereeekk...!!" Airmatanyabercucuran dan mulai menangis keras. Karena dilarang ikut, ia mulaiberteriak-teriak minta ikut. Terlihat ibu terus pergi menuju stasium keretaapi. Sepertinya, ibunya juga mengusap air matanya, entah kelilipan atau matanyagatal. Dipandangnya ibunya bersama adik-adiknya yang makin mengecil dan pergi menjauhsampai mereka hampir mecapai turunan dekat persimpangan jalan kereta api.

Tak tahan, si Awang kecil lari mengejar rombongan ibunya sambil berteriak-teriak "ikuuuuuut....ibuuuu"
Pak lik Halid mengejar Awang, menagkap dan membawanya kembali ke rumah. Awang meronta-ronta dan berteriak-teriak mau ikut ibunya. Pak lik Halid kehabisan akal, Awang diikat pakai stagen mbah Uti dan ditaruh di amben di ruang besar. Beberapa kali Awang dicubit disuruh diam, tapi Awang tetap meronta dan berteriak-teriak. Hari itu Awang tak mau ke sekolah,malah menangis sepagian sampai siang.
"Ikut ibuuu, ikut ibuuu" ia meracau diantara tangisnya. Tak didengarnya pak lik Halid yang mengomel bahwa ibu juga sedih, makanya Awang harus diam, tidak boleh menangis, sampai akhirnya ia tertidur kecapaian.

Ia tak mengerti mengapa ia tidak berkumpul dengan ibunya, padahal ketiga adiknya ikut ibu. Ia tidak mengerti masalahekonomi yang mungkin sedang membelit keluarganya, yang ia tahu bahwa jika iaberkumpul dengan ibunya, ia merasa sangat aman. Di Malang, rumahnya adalistrik, kalau mau kencing malam-malam ia tak perlu merasa ngeri pergi kebelakang. Di siang hari juga ada radio yang menyiarkan lagu-lagu populer LilisSuryani yang berbahasa halus namun tak dimengertinya seperti bahasa Jawa tapibukan, bahasa Indonesiapun bukan, atau siaran berita pembangunan RRI. Iajarang-jarang menikmati hal-hal ini, ia merasa agak iri kepada Kemat, adiknyayang masih sekolah di taman kanak-kanak.

Begitulah, setiap kali ia ketemu adiknya,ia sering meledek atau mengganggu adik lelaki satu satunya itu, sampai adiknyamerasa jengkel sekali dan memaki "Woo pancen putherrr" (Ooo dasar kutung).Dengan demikian barulah ia berhenti meledek, barulah ia merasa bahwa dirinyasendiri adalah orang aneh. Jari jari tangannya pendek-pendek dan berbentuk–maaf—seperti kepala zakar. Kakinya juga panjang sebelah dan bengkok dikakikirinya. Jalannya agak pincang. Makanya ia tak pernah menang jika diadu lombalari, atau bermain jumpritan (kejar-kejaran). Kadang ia merasa jengkel kepadadiri sendiri dan memaki kaki kirinya yang sakit kalau diajak banyak berjalan,lari, atau berolah raga yang banyak aktivitas berjalan atau berlari. Ia jugatak bisa bermain seruling yang sangat disenanginya. Ia dan Mas Roel sukamembeli seruling yang suaranya merdu sekali. Namun jari-jarinya terlalu pendek,bengkok-bengkok dan aneh sehingga terlalu sukar baginya untuk memainkanseruling. Pantas jika anak perempuan pada takut kepadanya di sekolah, seolahmelihat hantu. Jika ia mendekat, anak anak perempuan teman sekolahnya pada larimenghindar sambil menjerit-jerit. Hanya ada beberapa yang ramah dan merasakasihan. Orang yang tidak mengerti situasi ini selalu menyalahkan Awang. Awangnakal sekali. Suka menggoda anak perempuan.

Pikirnya "lho saya salah apa? Kok semuanyatakut, saya tidak berbuat salah atau menggoda kok?"
"Wah daripada selalu disalahkan sebagai'anak nakal' yang suka menggoda anak lain, mendingan saya nakal beneran saja.Awas, nanti akan saya kageti anak-anak perempuan aleman itu dengan jari-jarisaya yang seberti buah zakar ini". Ia juga masih ingat ketika masih bersekolahdi TK di Banjarmasin. Bapak membelikan sepatu kulit tertutup dengan retsletingyang indah. Tentu Awang bangga dengan sepatunya ini. Suatu hari, seorang anakperempuan manis di depan rumahnya—tepat di depan pagar pelabuhanTrisakti—menyelutuk "Si kutung memakai sepatu Beatles". Muka Awang langsungberubah kecut, dirumahnya di asrama Tentara Telaga Biru, ia mencopot sepatunyadan tak pernah memakai sepatu itu lagi ke sekolah. Dibujuk oleh bapakpun ia takmau. Lebih baik pakai sandal atau 'nyeker' alias bertelanjang kaki.

Beberapa minggu kemudian, Awang dikenal sebagai 'anak nakal' dari Kauman, cucunya mbah Anjun.

Di rumah mbah Uti ini, keadaan sangatgelap waktu malam tiba. Untuk kecing ke belakang ia merasa ngeri, alih-alih iakeluar rumah dan kencing di kebun, ia kencing di depan pintu ke arah dapur yangmasih berlantai tanah. Belum lagi urusan buang air besar, mereka bertiga masihminta diantar ke kebun belakang. Dengan memaksakan diri ia kadang berani kekamar mandi yang berada di luar rumah sendirian, tapi mas Roel sangat penakut.Jarang masnya berani sendirian, ia sering diajak kakaknya menuntaskan hajatbareng. Padahal kadang ia tidak kebelet, tapi demi kakaknya ia mau ikutan danpura-pura buang hajat. WCnya terletak jauh di pojok kebun belakang dansanitasinya tidak bagus. Bau dan banyak lalat hijaunya. Kadang kelihatan banyaktahi berceceran di sekitar septik-tank yang ada cerobongnya, seperti cerobongasap kereta api.

Ia merasa kurang aman tinggal di tempatUti yang agak terpencil ini. Diluar Awang nampak seperti sesosok anakpemberani, tapi dalam hatinya sebenarnya tak kurang takutnya dibanding anaklain. Tapi keadaan memaksanya untuk nekat.

Untuk ketemu anak lain saja ia harus nekatkeluar rumah menerobos kegelapan sendiri. Mbk Anna dan Mas Roel tidak maumengantarnya main, mereka punya dunianya sendiri dan temannya masing-masing,terpaksa ia harus memberanikan diri. Untuk main ke rumah pak Abou ayahnya masRofik atau kerumah si No yang pintar itu setelah maghrib, ia harus melewatimakam nenek moyangnya yang ada di belakang Masjid. Makam mbah kakung, mbahBuyut kakung dan mbah canggah, yang entah siapa namanya. Kemudian bulakanpendek yang gelap di malam hari. Menurut tetangga, ada salah satu dari penghunimakam itu yang menjadi hantu. Terpaksa dengan takut-takut Awang nekat melewatidaerah 'wingit' yang katanya sering ada penampakan. Tapi dengan beberapa kalilewat tidak ada kejadian apa-apa, ia jadi tahu bahwa di situ tak ada yangnamanya hantu. Pada hakekatnya, hantu dan setan itu cuma omong kosong saja.

Namun demikian, ia masih lebih senangtiggal bersama ibu di Malang, kehidupan lebih ceria, banyak penjual makananyang lewat di depan rumah, malah kadang tandak bedhes pun lewat untuk menghiburanak-anak. (Tandak bedhes  topengmonyet). Di sini? Yang ada hanya nyamuk, kegelapan, kelaparan dan kesepian.Memang kadang ada yang nanggap wayang kulit semalam suntuk, namun itupun tidaktentu dua bulan sekali.
Kadang ia pergi ke dukuh Kunden untukmenonton "Jaranan" atau kuda lumping. Meski di keluarga dikatakan 'kharom' atauharam, permainan terseut sangat menarik. Musiknya sangat dinamis, terutamatabuhan gendang dan terompet kayunya. Jogedan oleh para penthul nampak sangatlucu. Penthul atau badut ini bergerak dengan pola tari yang khas, tengil,menggoda dan bahkan kadang kurang ajar. Awang terpesona pada kesenian yangdikutuk haram ini. Permainan ini melibatkan dukun yang mengundang roh danyangatau nenek moyang. Sang dukun selalu membakar kemenyan atau dupa dan membuatpemainnya kesurupan.

Beberapa tahun kemudian ia mengajak adik laki-lakinya si Kemat mengunjungi kunden ini, malahan kemudian adiknya mampumenabuh gamelan jaranan. Ia sendiri mencoba malah sumbang, salah pukul atauterlambat ataupun terlalu cepat iramanya. Adik laki-lakinya si Kemat itu sangatberbakat dalam olah musik, Awang hanya penikmat musik saja. Namun mereka takberani lapor ke keluarga bahwa mereka sering nonton, bahkan menabuh musik gamelanKuda Lumping. Padahal ada beberapa lagu irama gamelan jaranan, mulai dari yangpaling 'keras' sampai yang lembut, yang khusus buat penari-penari perempuan.Awang juga kurang paham mengapa hampir semua budaya selain Arab di'nash'sebagai 'kharom' atau haram. Apakah agama yang dipeluknya itu memang sebuahalat untuk ekspansi budaya Arab? Supremasi budaya Arab? Penjajahan dalam bentukpenjajahan budaya atau Arabisasi? Entahlah. Ia masih terlalu kecil. Yang iarasakan, agamanya adalah agama politik alih-alih agama untuk perbaikan diri.Kemenangan sebagai tujuan utamanya. Asal menang!!

Khayyya 'alal falaaaaahhhhhh. Terdengaradzan di mesjid sayup sayup. Cepat-cepat ia lari ambil sarung dan sholat Lohordi masjid.
(Coba terjemahkan sendiri suara adzan itu)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar