Ada
klarap cicak terbang yang melayang dari satu pohon ke pohontanpa suara.
Ada burung emprit di sawah belakang yang sibuk menarik-narikjerami
kering sarang anak-anaknya. Dari dalam masjid di depan rumah yang
besaritu suara tokek yang bersembunyi di belandar dekat bedug raksasa
yang lebarnyalebih tinggi dari pada tinggi badannya. Matahari dengan
garang memanasi bumihari itu. Ayam pada malas berkeliaran cari makan,
hanya mendekam di kebundibawah pohon asem besar di belakang sambil
mengais-ngais tanah mencari-carimakanan yang bisa dipatuk-patuk.
Binatang-binatang
yang sedang asyik dengan kegiatannya ituterkejut oleh teriakan suara
peluit sepur grung yang datang dari Blitar danmenuju Malang. Sepur grung
berarti kereta api dengan lokomotip penarik yangbermesin uap. Peluitnya
ada dua macam, peluit kecil dan besar. Yang kecilmenjerit
"tuuuiiiiittt" dan yang besar menggerung dengan suara membahana
"grooouuuunggg" layaknya seekor singa yang siap berhantam. Akan tetapi
keduapeluit itu kedengaran agak lemah dari rumah Uti, hanya sedikit
berisik ketikamelintas dari barat ke timur, menandai saat itu adalah
tepat jam sebelas siang.
"Mbook, kucinge endiii?" terdengar jeritan gadis kecil. Rupanyambok Mi sudah pulang dari pasar berjualan kelapa.
Jam
sebelas adalah waktunya mbok Mi mengerjakan rutinitas di rumahUti. Dik
Atin yang masih berusia balita selalu ikut mboknya kemanapun ia
pergi.Kucing hitam yang ditemukan Lik Imin itu sangat disenanginya.
Kucing yangdulunya kurus dan dekil itu sekarang sudah agak besar dan
gemuk menggemaskan,bulunya hitam mulus dengan belang putih sedikit di
kepala, kaki depan dandadanya. Jadilah ia sebagai boneka mainan dik
Atin, digendong kesana kemari.Awangjuga suka main dan menggoda kucing
lucu itu. Lik Iminlah yang mengajari Awangdan Atin bermain dengan
kucing. Pak lik Imin juga pernah menunjukkan fotonyawaktu masih muda,
ternyata ganteng sekali, dengan kumis tebal hidung mancung,persis
bintang filem.
Mbok Mi sudah janda dengan 2 orang anak.
Anaknya yang sulung laki-laki,ikut mbah Jeni yang tinggal di turunan
sebelum jembatan sebeng. Mantan suaminyajuga kadang tinggal di situ
membantu mbah Jeni membenahi dan membangun rumahyang letaknya terhalang
oleh satu pekarangan lagi di sebelah pekarangan Uti.Mantan Suaminya ini
katanya orang Sumberpucung, jadi kalau bicara tidak sepertiorang Blitar,
lebih mirip orang kota Malang. Kalau menanyakan "bagaimana?"
bukandengan "piye?" tapi dengan "Yak Opo?". Awang yang masih menerima
semua bahasaitu juga masih tidak paham dengan bahasa Blitar dan Malang
yang agak berbedaitu. Tapi ditelinga orang Jawa Timur, bahasa mereka
bukan agak berbeda, tapijauh berbeda. Tahun lalu bapak mengantar seluruh
keluarga pindah ke pulau Jawasetelah tinggal di pinggiran kota
Banjarmasin selama kurang lebih 2 tahun.Awang hampir tidak bisa lagi
berbahasa Jawa. Rasanya mbak Anna juga sudah lupabahasa Jawa waktu
pertama datang di pulau Jawa, tapi kini malahan sudah hampir lupabahasa
Banjarnya. Sama seperti si Awang yang hanya ingat samar-samar
bahasaBanjar.
Suara sepur itu juga menandakan saatnya hati
Awang biasanya melonjak-lonjakkepingin mandi-mandi di kali sebeng
dengan teman-teman, memandikan kerbau, ataubermain adu gempu, yaitu bola
yang dibuat dari pasir basah yang digosok denganbasir setengah kering.
Hobi mandi di kali dan kena panas terik ini membuatkulit Awang menjadi
coklat gelap mendekati hitam dan kakinya seperti bersisikkarena daki
tanah yang tak bisa dihilangkannya waktu mandi.
Saat ini
Awang agak enggan bermain. Tadiwaktu minta makan kepada mbok Mi, dia
'diceramahi' oleh si mbok bahwa mbah Utisudah beberapa hari tidak
memberi uang belanja. Sekarang mbok Mi juga tidaktahu mbah Uti sedang
ada dimana, di kediri, malang atau surabaya.
"Gus Awang, sekarang
kan nggak ada uang.Saya yang beli beras buat sekeluarga, pake uang saya
sendiri. Kemarin saja buatbeli tempe dan beras saya keluar duit tiga
puluh rupiah. Pernah kemarin waktuberapa hari lalu saya keluar duit
seratus, biar Gus tahu bahwa saya tinggaldisini tidak gratis. Padahal
jualan kelapa berapa sih untungnya?" Katanyadengan mata plirak-plirik
agak sengit rupanya.
"Wah, jajan saya saja hanya setengahrupiah,
atau paling banyak satu rupiah".. "Pasti banyak sekali seratus
rupiahitu.." pikir Awang. Ia sendiri tak pernah pegang uang sebesar
seratus rupiah.
Awang jadi agak sungkan makan di rumahmbah
Uti sepulang sekolah. Kalau tidak ada makanan, ia jalan kerumah mbah
Yutdi dekat jalan masuk gang Santren (Pesantren? Tidak ada pesantrennya
kok?).
Di tempat mbah Yut atau mbah buyut yaituibu dari
mbah kakungnya yang sudah meninggal duluan, ia bisa dapat makan
tanpaminta. Setiap kali datang di tempat mbah yut, selalu makanan
disediakan oleh mbokYah, pembantunya, atau oleh mbah Sri yang gagu dan
sudah bonkok itu. Kadang iabisa dengan bebas ambil parang dan memotong
tebu di kebun dekat pagar bambu gudangnyaCia, keluarga keturunan Cina
yang menyewa tanah mbah Buyut. Tebu itudinikmatinya di dalam kebun itu
juga, enak sekali menggeragoti tebu yang"crunchy" kemripik dan manis
berair banyak. Jam sepuluh sebelum sepur lewat,sarapan pasti sudah
matang, sayurnya juga masih panas mengepulkan uap. Lauknyatempe benguk
atau tempe kelas 3 yang banyak mengandung kulit ari biji
kedelai.(Ternyata diketahuinya puluhan tahun kemudian bahwa kulit ari
kedelai banyakmengandung serat yang baik buat perut dan vitamin bagi
tubuhnya) Paling tidakseminggu dua kali Awang makan di tempat mbah Yut.
Mbah Yut dulunya adalah orangterkaya di kecamatan Kesamben. Beliau sudah
sepuh sekali, berjalanpun sudahsusah, badannya bongkok dan pandangannya
sudah agak kabur.
Awang juga tahu si mbok Mi memang
getolpergi ke pasar, menjual kelapa dengan kulakan dari penjual yang
lewat di depanrumah. Orang yang hilir mudik itu lebih senang kalau
dagangannya laku didekat-dekat Mesjid situ saja sebab mereka sudah cukup
kecapaian menggendongdagangan dari kampung "Cobanteng". Ia tahu
kemudian bahwa Cobanteng adalahsingkatan dari Reco Banteng, atau patung
seekor banteng entah dari jamankerajaan apa yang pernah ditemukan di
dukuh tersebut. Jarak dari Kauman keCobanteng sama dengan Kauman ke
pasar Kesamben. Belum dihitung turun naiknyajalan yang agak curam dan
becek di musim hujan. Jadi sudah menghemat separuhtenaga bagi para
penjual itu.
Lalu mau apa hari ini? Bikin wayang!!
Yamembuat wayang kulit sangat mengasyikkan, meski tidak menggunakan
kulit. Dirumah mbah Uti terdapat banyak karton bekas pembungkus mesin
jahit danbarang-barang lain yang dibawa dari Banjarmasin. Ada bekas
pembungkus mesinSpeed Boat yang bermerek yohenson ("Johnson"). Mbak Anna
begitu kalau membacakarton tebal dan berlapis itu. Dari pada dibuang,
ia minta bantuan mbak Annamengelotoki karton itu selapis demi selapis,
memisahkan bagian tengah yangberlekuk-lekuk itu agar terpisah dengan
bagian luarnya yang lurus dan cukuptebal. Nanti kalau dimainkan pasti
seru, dia bisa menjadi dalang utama dengantabuhan mulut. Mbak Anna bisa
menjadi dalang cadangan kalau mulutnya sudahcapek. Cuma saja, mbak Anna
terlalu kreatif, kertas karton yang sedianya akandia bikin tokoh
Indrajit, musuh kesatria kera Hanoman sudah digunting mbak Annamenjadi
wayang berupa seekor kambing!! Gagang penjepit juga sudah dipasang,mulai
dari pantat menuju kepala kambing tersebut, lalu mbak
Annamendemonstrasikan cara memainkan karakter wayang kambing. Kambing
itudimainkannya dengan diselingi bunyi "mbeek" dan menyeruduk
berkali-kali. Sangatberlawanan dengan mas Roel yang kurang kreatif tapi
bekerja rapi. Awangmemperhatikan ini, jadi ia lebih senang bekerja cukup
kreatif, dan tidak kalahrapi karena ia bisa pinjam dulu karakter tokoh
wayang dari kang Mujiono,adiknya kang Jaet.
Kang Jaet dan
Mujiono ini tinggal di dukuhKunden di sebelah barat Kauman. Mata
pencaharian penduduk Kunden rata-ratamembuat Gerabah. Kuali,
penggorengan, kendil, kendi, anglo dsb di kecamatan Kesambenbanyak
diproduksi di dukuh kunden ini. Hubungan penduduk Kunden dan Kaumantidak
terlalu harmonis. Sebagian penduduk kunden beragama kristiani
dansebagian beragama Budha. Kang Jaet ini suka kritis jika ikut
pengajian dimesjid. Di kemudian hari, didengarnya bahwa kang Jaet pindah
agama, jadiberagama Budha. Pak lik Halid bercerita seolah-olah kang
Jaet sudah berubah menjadisetan yang tidak boleh didekati. Beberapa
orang juga pernah bilang bahwa merekamenyaksikan kang Jaet dilempar batu
bata oleh Jin Islam penunggu mesjid karenaomongannya banyak yang
nggladrah seperti orang kafir. Ia suka bertanya kenapasebagai orang
Islam harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak bolehbegitu
dsb.
Awang suka mampir di rumah mereka karenakang Mujiono
pintar bikin tokoh wayang, ia pernah pinjam tokoh Gatotkaca,antarejaatau
antasena. Dibawanya sepotong karton di tas sekolah, kemudian waktu
pulangsekolah sewaktu melewati rumah mereka ia mampir untuk menjiplak
anak-anak Bimaitu ke kartonnya. Kang Mujiono senang diampiri oleh Awang,
ia diberi satu tokohwayang Hanoman yang terbuat dari plastik merah.
Buatannya bagus sekali, sangatmirip dengan wayang kulit asli.
Nah,
dengan menjiplak wayang-2 milik kangMujiono ini mas Roel atau mbak Anna
pasti kalah pinter dalam membuat karakter "wayangkarton". Buatan Awang
jadi paling bagus,tidak seperti buatan mbak Anna yang pletat-pletot,
atau bikin wayang dlm bentukkambing!!
Ia juga merasa
bangga karena wayangnyajauh lebih pantas dari pada wayang karton yang
dijual oleh pedagang-2 asongandi pasar yang buatannya kasar dan
pletat-pletot itu. Entah apa yang dipikir paklik Halid yang suka
mengajak tiga keponakannya ini untuk nonton wayang. Awangmerasa bahwa
yang cinta berat kepada wayang kulit bukan pak lik Imin atau paklik
Gofur. Ibu pernah bercerita bahwa salah satu dari pak lik Imin atau pak
likGofur ini hobi berat akan wayang kulit hingga ia digelari "thoyang"
(pothowayang atau gila wayang). Ia rasa pak lik Halid inilah "thoyang"
yangsebenarnya, yang asli, selain dirinya sendiri. Barangkali mbak Anna
juga sudahketularan jadi setengah thoyang. Di bulan puasapun pak lik
Halid masih mengajakAwang dan Mas Roel untuk nonton wayang kulit semalam
suntuk. Kadang jugabertiga diajaknya semua. Untuk sahur, mereka membawa
bontotan atau bekal darirumah berupa nasi dibungkus daun pisang dengan
lauk ikan asin dan sambal bajag.
Dikemudian hari,
dugaannya ini terbuktikarena anak tunggal pak lik Halid dicekokinya
dengan banyak sekali komik-komikwayang mahabarata dan ramayana, mungkin
agar anaknya dapat belajar darikearifan kisah-kisah yang sebenarnya
berasal dari agama Hindu ini, ataumemperlihatkan cerita menarik dari
Timur, entahlah.
Paling tidak, pak lik Halid
padahakekatnya telah sukses mengajak Awang melihat kearifan agama lain,
agama Hinduyang oleh keluarga Kauman ini dianggap kafir, salah dan pada
masuk nerakanantinya di akherat. Awang dapat melihat bahwa konsep
ketuhanan monotheisme yangasli sebetulnya berasal dari agama Hindu.
Monotheisme yang digembar-gemborkansebagai "Agama Samawi" itu berasal
dari konsep 'brahman' yaitu Dzat yang takdapat dimusnahkan atau
diciptakan. Ini jelas sekali diceritakan dalam BhagwadGita, dialog
Arjuna sebelum ia berangkat perang di medan perang Kuru Setra.
OrangTimur Tengah tahunya orang Hindu bertuhan tiga. Menyembah Trimurti,
tigadewa—pencipta, penjaga dan penghancur. Mereka tidak kenal konsep
avatar, ataupengejawantahan, inkarnasi. Tiga dewa itupun sebenarnya
pengejawantahan darisang Hyang Widhi atau Dzat Asal yang tak dapat
dimusnahkan atau diciptakan.Agama Timur tengah itu malah "memanusiakan"
DZAT itu dengan merumuskan "lam yalidwa lam yuulad" atau "tak dapat
beranak dan tak dapat diperanakkan". Istilahnyasaja sangat manusiawi,
jauh dari transendental yang mengarah pada alamspiritual. Dalam
kajian-kajian terakhir, diistilahkan 'dzat' itu sebagaiQuantum. Dzat
terkecil dari unsur subatomik tapi juga terbesar (maha besar) darimakro
kosmik jagad raya karena DIA itu memenuhi semua ruang bahkan ruang
kosongdi jagad raya sekalipun. Ia membentuk segala makhluk, konkrit
maupun abstrak. Dzatilahiah inilah yang tak dapat diprediksi apa maunya,
bagaimana bentuknya, danhanya diketahui bahwa ia berbentuk energi,
power atau kekuatan, kekuasaan yangmaha besar.
Mata dan
telinga para pengklaim kebenaranitu tertutup oleh rivalitas kesukuan.
Rivalitas Superioritas Yahudi dan PanArabisme. Rivalitas atau persaingan
kekuasaan yang telah menutup mata dan hatiterhadap kearifan yang
berasal dari Timur. Sumber asli dari ketauhidan agama-2timur tengah.
Tapi contekannya malah mengaku sebagai agama samawi atau agamayang
'turun dari langit' dan agama-2 lain dituduh sebagai agama budaya
atauagama ciptaan manusia.
Kalau dipikir lebih jauh,
dimanakahlangit? Kalau bumi dilihat dari galaksi Andromeda, maka bumi
akan nampaksebagai daerah yang berada di langit. Jadi agama apapun yang
tercipta adalahagama langit atau agama 'samawi' jika dilihat dari
galaksi lain atau planetlain. Konsep 'samawi' ini ternyata merupakan
konsep primitif dari sekelompokmanusia yang sok superior dan mengklaim
diri sebagai 'yang paling benar'.Kenyataanya? Sangat menggelikan.
Awang
juga belum paham akan hal-hal diatas, ia baru paham beberapa puluh
tahun kemudian setelah ia banyak bersentuhandengan budaya-budaya lain.
Ia baru mulai paham ketika ia belajar fisika di STMtentang hukum
kekekalan energi.
Yang ia tahu adalah bahwa hidup
tanpadidampingi orang tua di Kauman tidak terlalu jelek. Kalau ibu
datang ke Kauman,mereka bisa berkumpul setelah sholat Maghrib. Pak lik
Imin biasa duduk di dekatpintu kamarnya di depan, Awang, mbak Anna, ibu
dan tiga adiknya berkumpul dibawah lampu minyak besar sambil
menceritakan kembali dongeng yang seringdiceritakan sebelum tidur. Dik
Atin juga senang ikut berkumpul dan digoda olehmbak Anna. Dia disuruh
mbak Anna untuk menceritakan dongeng kancil yang kenadiperangkap oleh
petani. Dik Atin bisa mengakhiri cerita dengan sangat lucu"Kancile njur
dipethik ganjut pulut" atau "kancilnya kena dipetik menempel digetah".
Rangkaian kata yang tak masuk akal sama sekali, tapi diucapkan seorang
balitadengan amat yakinnya seolah-olah ia pendongeng profesional.
Kalau
ibu ada dirumah Uti, jajanan pastitersedia. Paling tidak, penjual
gethuk yang tiap hari lewat dan hanya dipandangsaja oleh Awang akan
dipanggil oleh ibu. Berarti makan gethuk yang mainisdengan taburan
parutan kelapa. Kadang diberi tambahan kicak/kue singkong dengantetesan
'juruh' atau sirup gula kelapa yang manis dan sedap. Biasanya ibudatang
ke Kauman kalau sudah mendapat kiriman dari bapak di Banjarmasin.
Kalaulama tak mendapat kiriman, ibu kelihatan sedih, pernah di Malang,
ia memergokiibunya yang sedang menangis sedih. Entah apa yang
ditangisinya, tapi saat itudi rumah di Asrama Tentara di Malang itu
sedikit sekali makanan yang dapatdijumpainya. Kalau ia minta jajan, ibu
malah marah dan mengajari berhemat.
Yang sangat
menggembirakan lagi, pak likHuda datang, entah dari Cimahi atau Jawa
tengah. Pak lik yang satu ini palingtidak diketahuinya. Misterius.
Menurut kabar, pak lik sedang berjuang untukmenjadi polisi. Ia pernah
minta restu kepada bapak bahwa ia dan mbah Ajam inginmenjadi Abri. Kala
itu kepolisian masih tergabung dalam angkatan bersenjata.Bapak merupakan
satu-satunya manusia yang masuk angkatan bersenjata di keluargamBah Yut
Kediri, mBah Yut Jombang, maupun mBah Yut Kesamben. Pak lik Hudabanyak
bertanya kepada Bapak tentang bagaimana cara masuk angkatan
bersenjata.Beliau dan mbah Ajam usianya sepantar. Badan mereka sama
tinggi besar dankekarnya. Karena lik Huda hanya tinggal dua hari saja di
Kauman, Awang ingin lebihkenal dan ia tidur ditemani pak lik Huda.
Sebelum tidur, Awang mintadiceritakan sebuah dongeng. Tentu saja pak lik
huda bingung, mau cerita apa?
Beliau tak kurang akal,
dimulai daricerita nabi Yusuf yang sukses mengumpulkan gandum di negeri
Mesir, negerinyaFiraun. Pak lik memulai:
"Ini ceritanya panjang sekali, mungkin takakan selesai diceritakan semalam suntuk.."
Awang malah sanga takjub dan tertarik, "yaya pak lik, mulai saja..."
"Ya
wis, waktu itu Allah melihat bahwapenduduk mulai lupa kepada tuhannya.
Allah mengirim belalang kecil-kecil untukmenghabiskan gandum penduduk
Mesir."
"Satu belalang mengambil satu butir gandum,lalu terbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
Hampir lima menit pak lik Huda mengulangkalimat yang sama.
Awang protes, "Kok ceritanya begitu? Manaterusannya?"
"Lho, masih lama... kan gandumnya ada bergudang-gudang...jadi..."
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
"Satu belalang lagi mengambil gandum, laluterbang breeeeng"
...
"Waaah berhenti pak lik, bosen. Mosok gitulagi.."
"Lhoooo...
kan saya sudah bilang, ceritanyalama dan panjang sekali", kata pak lik
Huda sambil ketawa geli. Awang merasadikadali, mengambil bantal dan
menutup telinganya terus tidur.
Keesokan harinya sebelum pergi
sekolah,Awang celingak celinguk mencari 'pak lik Aneh' yang tadi malam.
Tapi takditemuinya dimanapun, katanya pak lik sudah pergi lagi. Entah ke
Bandung,Cimahi atau ke Magelang. Ibu juga akan berangkat ke Malang,
Awang merasa sedihsekali karena akan ditinggal lagi. Ia mulai merengek
ingin ikut ibu ke Malang.Ibu membujuk agar tetap tinggal di Kauman dan
bersekolah, tapi Awang tak maumengerti
"Pokoke nderek ibuuuuk.." (Pokoknya ikutibu..)
"
buuuk ndereeekk...!!" Airmatanyabercucuran dan mulai menangis keras.
Karena dilarang ikut, ia mulaiberteriak-teriak minta ikut. Terlihat ibu
terus pergi menuju stasium keretaapi. Sepertinya, ibunya juga mengusap
air matanya, entah kelilipan atau matanyagatal. Dipandangnya ibunya
bersama adik-adiknya yang makin mengecil dan pergi menjauhsampai mereka
hampir mecapai turunan dekat persimpangan jalan kereta api.
Tak tahan, si Awang kecil lari mengejar rombongan ibunya sambil berteriak-teriak "ikuuuuuut....ibuuuu"
Pak
lik Halid mengejar Awang, menagkap dan membawanya kembali ke rumah.
Awang meronta-ronta dan berteriak-teriak mau ikut ibunya. Pak lik Halid
kehabisan akal, Awang diikat pakai stagen mbah Uti dan ditaruh di amben
di ruang besar. Beberapa kali Awang dicubit disuruh diam, tapi Awang
tetap meronta dan berteriak-teriak. Hari itu Awang tak mau ke
sekolah,malah menangis sepagian sampai siang.
"Ikut ibuuu, ikut
ibuuu" ia meracau diantara tangisnya. Tak didengarnya pak lik Halid yang
mengomel bahwa ibu juga sedih, makanya Awang harus diam, tidak boleh
menangis, sampai akhirnya ia tertidur kecapaian.
Ia tak
mengerti mengapa ia tidak berkumpul dengan ibunya, padahal ketiga
adiknya ikut ibu. Ia tidak mengerti masalahekonomi yang mungkin sedang
membelit keluarganya, yang ia tahu bahwa jika iaberkumpul dengan ibunya,
ia merasa sangat aman. Di Malang, rumahnya adalistrik, kalau mau
kencing malam-malam ia tak perlu merasa ngeri pergi kebelakang. Di siang
hari juga ada radio yang menyiarkan lagu-lagu populer LilisSuryani yang
berbahasa halus namun tak dimengertinya seperti bahasa Jawa tapibukan,
bahasa Indonesiapun bukan, atau siaran berita pembangunan RRI.
Iajarang-jarang menikmati hal-hal ini, ia merasa agak iri kepada Kemat,
adiknyayang masih sekolah di taman kanak-kanak.
Begitulah,
setiap kali ia ketemu adiknya,ia sering meledek atau mengganggu adik
lelaki satu satunya itu, sampai adiknyamerasa jengkel sekali dan memaki
"Woo pancen putherrr" (Ooo dasar kutung).Dengan demikian barulah ia
berhenti meledek, barulah ia merasa bahwa dirinyasendiri adalah orang
aneh. Jari jari tangannya pendek-pendek dan berbentuk–maaf—seperti
kepala zakar. Kakinya juga panjang sebelah dan bengkok dikakikirinya.
Jalannya agak pincang. Makanya ia tak pernah menang jika diadu
lombalari, atau bermain jumpritan (kejar-kejaran). Kadang ia merasa
jengkel kepadadiri sendiri dan memaki kaki kirinya yang sakit kalau
diajak banyak berjalan,lari, atau berolah raga yang banyak aktivitas
berjalan atau berlari. Ia jugatak bisa bermain seruling yang sangat
disenanginya. Ia dan Mas Roel sukamembeli seruling yang suaranya merdu
sekali. Namun jari-jarinya terlalu pendek,bengkok-bengkok dan aneh
sehingga terlalu sukar baginya untuk memainkanseruling. Pantas jika anak
perempuan pada takut kepadanya di sekolah, seolahmelihat hantu. Jika ia
mendekat, anak anak perempuan teman sekolahnya pada larimenghindar
sambil menjerit-jerit. Hanya ada beberapa yang ramah dan merasakasihan.
Orang yang tidak mengerti situasi ini selalu menyalahkan Awang.
Awangnakal sekali. Suka menggoda anak perempuan.
Pikirnya "lho saya salah apa? Kok semuanyatakut, saya tidak berbuat salah atau menggoda kok?"
"Wah
daripada selalu disalahkan sebagai'anak nakal' yang suka menggoda anak
lain, mendingan saya nakal beneran saja.Awas, nanti akan saya kageti
anak-anak perempuan aleman itu dengan jari-jarisaya yang seberti buah
zakar ini". Ia juga masih ingat ketika masih bersekolahdi TK di
Banjarmasin. Bapak membelikan sepatu kulit tertutup dengan
retsletingyang indah. Tentu Awang bangga dengan sepatunya ini. Suatu
hari, seorang anakperempuan manis di depan rumahnya—tepat di depan pagar
pelabuhanTrisakti—menyelutuk "Si kutung memakai sepatu Beatles". Muka
Awang langsungberubah kecut, dirumahnya di asrama Tentara Telaga Biru,
ia mencopot sepatunyadan tak pernah memakai sepatu itu lagi ke sekolah.
Dibujuk oleh bapakpun ia takmau. Lebih baik pakai sandal atau 'nyeker'
alias bertelanjang kaki.
Beberapa minggu kemudian, Awang dikenal sebagai 'anak nakal' dari Kauman, cucunya mbah Anjun.
Di
rumah mbah Uti ini, keadaan sangatgelap waktu malam tiba. Untuk kecing
ke belakang ia merasa ngeri, alih-alih iakeluar rumah dan kencing di
kebun, ia kencing di depan pintu ke arah dapur yangmasih berlantai
tanah. Belum lagi urusan buang air besar, mereka bertiga masihminta
diantar ke kebun belakang. Dengan memaksakan diri ia kadang berani
kekamar mandi yang berada di luar rumah sendirian, tapi mas Roel sangat
penakut.Jarang masnya berani sendirian, ia sering diajak kakaknya
menuntaskan hajatbareng. Padahal kadang ia tidak kebelet, tapi demi
kakaknya ia mau ikutan danpura-pura buang hajat. WCnya terletak jauh di
pojok kebun belakang dansanitasinya tidak bagus. Bau dan banyak lalat
hijaunya. Kadang kelihatan banyaktahi berceceran di sekitar septik-tank
yang ada cerobongnya, seperti cerobongasap kereta api.
Ia
merasa kurang aman tinggal di tempatUti yang agak terpencil ini. Diluar
Awang nampak seperti sesosok anakpemberani, tapi dalam hatinya
sebenarnya tak kurang takutnya dibanding anaklain. Tapi keadaan
memaksanya untuk nekat.
Untuk ketemu anak lain saja ia
harus nekatkeluar rumah menerobos kegelapan sendiri. Mbk Anna dan Mas
Roel tidak maumengantarnya main, mereka punya dunianya sendiri dan
temannya masing-masing,terpaksa ia harus memberanikan diri. Untuk main
ke rumah pak Abou ayahnya masRofik atau kerumah si No yang pintar itu
setelah maghrib, ia harus melewatimakam nenek moyangnya yang ada di
belakang Masjid. Makam mbah kakung, mbahBuyut kakung dan mbah canggah,
yang entah siapa namanya. Kemudian bulakanpendek yang gelap di malam
hari. Menurut tetangga, ada salah satu dari penghunimakam itu yang
menjadi hantu. Terpaksa dengan takut-takut Awang nekat melewatidaerah
'wingit' yang katanya sering ada penampakan. Tapi dengan beberapa
kalilewat tidak ada kejadian apa-apa, ia jadi tahu bahwa di situ tak ada
yangnamanya hantu. Pada hakekatnya, hantu dan setan itu cuma omong
kosong saja.
Namun demikian, ia masih lebih senangtiggal
bersama ibu di Malang, kehidupan lebih ceria, banyak penjual makananyang
lewat di depan rumah, malah kadang tandak bedhes pun lewat untuk
menghiburanak-anak. (Tandak bedhes topengmonyet). Di sini? Yang ada
hanya nyamuk, kegelapan, kelaparan dan kesepian.Memang kadang ada yang
nanggap wayang kulit semalam suntuk, namun itupun tidaktentu dua bulan
sekali.
Kadang ia pergi ke dukuh Kunden untukmenonton "Jaranan"
atau kuda lumping. Meski di keluarga dikatakan 'kharom' atauharam,
permainan terseut sangat menarik. Musiknya sangat dinamis,
terutamatabuhan gendang dan terompet kayunya. Jogedan oleh para penthul
nampak sangatlucu. Penthul atau badut ini bergerak dengan pola tari yang
khas, tengil,menggoda dan bahkan kadang kurang ajar. Awang terpesona
pada kesenian yangdikutuk haram ini. Permainan ini melibatkan dukun yang
mengundang roh danyangatau nenek moyang. Sang dukun selalu membakar
kemenyan atau dupa dan membuatpemainnya kesurupan.
Beberapa
tahun kemudian ia mengajak adik laki-lakinya si Kemat mengunjungi
kunden ini, malahan kemudian adiknya mampumenabuh gamelan jaranan. Ia
sendiri mencoba malah sumbang, salah pukul atauterlambat ataupun terlalu
cepat iramanya. Adik laki-lakinya si Kemat itu sangatberbakat dalam
olah musik, Awang hanya penikmat musik saja. Namun mereka takberani
lapor ke keluarga bahwa mereka sering nonton, bahkan menabuh musik
gamelanKuda Lumping. Padahal ada beberapa lagu irama gamelan jaranan,
mulai dari yangpaling 'keras' sampai yang lembut, yang khusus buat
penari-penari perempuan.Awang juga kurang paham mengapa hampir semua
budaya selain Arab di'nash'sebagai 'kharom' atau haram. Apakah agama
yang dipeluknya itu memang sebuahalat untuk ekspansi budaya Arab?
Supremasi budaya Arab? Penjajahan dalam bentukpenjajahan budaya atau
Arabisasi? Entahlah. Ia masih terlalu kecil. Yang iarasakan, agamanya
adalah agama politik alih-alih agama untuk perbaikan diri.Kemenangan
sebagai tujuan utamanya. Asal menang!!
Khayyya 'alal falaaaaahhhhhh. Terdengaradzan di mesjid sayup sayup. Cepat-cepat ia lari ambil sarung dan sholat Lohordi masjid.
(Coba terjemahkan sendiri suara adzan itu)